Pelatihan Pemulasaraan Jenazah RW 14 Sidanegara Cilacap Bersama Ustadz Tio Setiyono: Warga Antusias Belajar Tugas Mulia

Cilacap, 12 Oktober 2025 — Suasana di RW 14 Kelurahan Sidanegara, Kecamatan Cilacap Tengah, tampak berbeda pada Minggu pagi ini. Puluhan warga dari berbagai RT berkumpul di Balai RW untuk mengikuti pelatihan pemulasaraan jenazah yang dipandu langsung oleh Ustadz Tio Setiyono, seorang pembimbing rohani dan praktisi pemulasaraan berpengalaman di wilayah Cilacap.

Makna dan Pentingnya Pemulasaraan Jenazah

Pemulasaraan jenazah adalah proses perawatan jenazah yang meliputi kegiatan memandikan hingga mengkafani jenazah yang merupakan salah satu kewajiban fardhu kifayah bagi umat Islam. Artinya, ketika sudah ada sebagian umat yang melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Namun, jika tidak ada yang melaksanakannya, seluruh umat Islam di wilayah tersebut akan menanggung dosa.

 

Dalam pelatihan ini, Ustadz Tio Setiyono menekankan bahwa pemulasaraan jenazah bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk penghormatan terakhir kepada sesama manusia. Proses ini mencakup beberapa tahapan penting seperti memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan jenazah dengan cara yang baik dan benar.

“Pemulasaraan jenazah adalah ibadah yang sangat mulia. Ketika kita mampu melaksanakannya dengan benar, itu bukan hanya membantu keluarga yang berduka, tapi juga menjadi amal jariyah bagi diri kita sendiri,”

Salah satu Syariat pada proses pemulasaraan seperti yang dijelaskan Dalam pelatihan tersebut, Ustadz Tio Setiyono menekankan pentingnya menggunakan air mutlak atau air bersih dalam proses memandikan jenazah. Hal ini sesuai dengan tuntunan syariat Islam yang menjelaskan bahwa jenazah harus dimandikan dengan air suci yang dapat menghilangkan hadas dan najis.

Pentingnya kesucian dan kebersihan air dalam setiap ibadah yang berkaitan dengan thaharah (bersuci), termasuk dalam proses memandikan jenazah. Para ulama menjelaskan bahwa air yang digunakan harus air mutlak, yaitu air murni tanpa tercampur benda lain yang mengubah sifat aslinya — agar tetap sah digunakan untuk bersuci menurut hukum Islam.

Seringkali banyak yang langsung memandikan dengan air sabun, atau pakai air jernih namun belum semua dibahasi sudah ada bagian bagian yang disabuni (dimandikan pakai sabun). Hal ini sejatinya menggugurkan esensi air mutlat/suci yang dimaksud.

Padahal air suci harus digunakan untuk membasahi seluruh tubuh jenazah secara menyeluruh, mulai dari kepala hingga ujung kaki sampai bagian lipatan lipatan tubuh, dengan lembut dan penuh penghormatan. Tujuannya bukan hanya untuk kebersihan fisik, tetapi juga sebagai simbol kesucian ruhani sebelum dikembalikan kepada Allah Swt.

Antusiasme Warga RW 14 Sidanegara

Pelatihan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini diikuti dengan penuh antusias oleh warga dari berbagai kalangan — mulai dari tokoh masyarakat, remaja masjid, hingga ibu-ibu PKK. Mereka tampak serius mengikuti setiap penjelasan dan praktik yang diberikan oleh narasumber.

Dalam sesi praktik, peserta diajak langsung memahami langkah-langkah pemulasaran jenazah menggunakan perlengkapan simulasi. Beberapa peserta bahkan mengaku baru pertama kali melihat proses ini secara langsung, sehingga menjadi pengalaman yang sangat berharga.

“Harapannya, tidak hanya tahu secara teori. Tetapi dengan adanya pelatihan pemulasaran jenazah ini, kita jadi lebih paham dan siap jika suatu saat dibutuhkan oleh warga,”

Tujuan dan Manfaat Pelatihan Pemulasaraan Jenazah

  • Meningkatkan pengetahuan agar lebih tepat dan sesuai tuntunan syariat
  • Meningkatkan kesiapan warga dalam menghadapi situasi duka dengan sikap tenang dan menanganinya dengan benar.
  • Mengurangi ketergantungan pada pihak luar, karena warga sudah memiliki keterampilan dasar pemulasaraan.
  • Menumbuhkan semangat gotong royong, terutama dalam urusan sosial keagamaan.
  • Memperkuat ikatan antarwarga karena kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan pembelajaran bersama.

 

Tak hanya teori dan praktik, pelatihan ini juga diselingi dengan sesi tanya jawab. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan seputar tata cara pemulasaran jenazah wanita, penggunaan kain kafan, hingga adab dalam memandikan jenazah. Ustadz Tio menjawabnya dengan sabar dan disertai penjelasan dalil yang relevan.

Kegiatan Warga Desa di Cilacap yang Inspiratif

Kegiatan ini bukan hanya sebatas pelatihan teknis, tetapi juga bagian dari kegiatan warga desa di Cilacap khususnya di wilayah RW.14 Kelurahan Sidanegara Cilacap Tengah untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan. Di tengah era modern seperti sekarang, masih banyak warga yang peduli terhadap pelestarian tradisi dan nilai gotong royong.

Ketua RW 14, Bapak Bangun, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program kerja RW yang fokus pada peningkatan kapasitas masyarakat di bidang keagamaan dan sosial.

“Kami ingin warga Sidanegara tidak hanya aktif dalam kegiatan rutin, tapi juga memiliki bekal ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan bersama. Salah satunya dengan memahami cara pemulasaran jenazah yang benar,”

Tidak hanya pelatihan Pemulasaran jenazah, namun kedepannya akan diadakan kegiatan kegiatan lain yang serupa. Dari warga untuk Warga, tidak hanya agar lingkungan makin guyub tapi juga mendapatkan manfaat dan pengetahuan yang bertambah.

Harapan ke Depan

Setelah pelatihan berakhir, panitia berencana membentuk tim pemulasaraan jenazah RW 14 khususnya lagi di tiap tiap RT, agar setiap saat ada warga yang siap membantu bila ada warga yang meninggal dunia. Inisiatif ini mendapat sambutan positif dari seluruh peserta dan tokoh masyarakat setempat.

Kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi RW dan desa lain di wilayah Cilacap. Dengan adanya pelatihan pemulasaran jenazah, masyarakat tidak hanya semakin memahami ajaran Islam, tetapi juga mempererat hubungan sosial yang harmonis di lingkungan sekitar.

Pelatihan pemulasaran jenazah RW 14 Sidanegara Cilacap bersama Ustadz Tio Setiyono menjadi bukti nyata bahwa kegiatan warga desa di Cilacap masih penuh semangat kebersamaan dan kepedulian. Di tengah rutinitas sehari-hari, warga tetap meluangkan waktu untuk belajar hal-hal bermanfaat, terutama yang berkaitan dengan nilai kemanusiaan dan keagamaan.

Dengan semangat gotong royong dan ilmu yang didapat, diharapkan para peserta mampu menjadi agen kebaikan di lingkungannya — siap membantu sesama dan menjalankan tugas mulia dengan penuh keikhlasan.

Penulis: Redaksi PIK-R Genius

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top